Judul
: Mengukir Kisah dengan Diksi penuh Insprirasi
Resume
Ke : 18
Gelombang
: 28
Tanggal
: 17 Februari 2023
Tema
: Diksi dan Seni
Bahasa
Narasumber
: Maydearly
Moderator
: Widya Arema
"Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak
mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi". - Helvy Tiana Rosa
Mendung
kelabu mengingatkan ku akan memori indah ku bersamamu dulu, sepoi angin yang
sejuk menenangkan kalbu. Seolah membelai lembut, menidurkan segala penat dan
pikiran yang kalut. Termanjakan akan kebahagiaan yang dulu kau hadirkan begitu
membuncah dalam relung sanubari.
Rumput yang bergoyang seakan ikut berbicara
memecahkan lamunanku yang terbuai akan senyum manis bayangmu. Seolah
menyiratkan sejuta makna yang akan kau ceritakan lewat pesan dari ranting pohon
yang melambaiku. Begitulah kerinduanku akan hadirmu mengiringi setiap langkah
sisa hidupku. Genggam tanganku erat penuh ikat kasih yang tak kan pernah kau
lepaskan, perpenjerat dalam lingkaran tautan hati dalam suka dan duka. Walau
raga ini tak lagi bersua, walau canda tawa tak lagi tercipta kenanganku bersamamu
tak akan pernah sirna
Tetapi apa
daya, kenyataan tidak selalu sesuai harapan, begitulah hidup sebagai perjalanan
yang penuh misteri dan berliku. Begitu pula bagi penulis pemula akan banyak
perjalanan terjal yang siap menghadang tanpa memberitahu sebelumnya. Segala rintangan dan hambatan yang tak terduga silih
berganti perlu dihadapi dengan terus menulis tiada henti
Seperti yang
penulis alami, saat jemari sudah ingin menekan keyboard, hati dan pikiran rindu
untuk menulis. Tanpa kata, tanpa raga, tanpa suara, tanpa sisa tak kutemui
materi dalam WA hanya puluhan puisi dari berbagai peserta. Ku coba mengejar
resume tanpa jeda, agar selesai menghasilkan karya abadi untuk dikenang
sepanjang masa sebagai pengalaman yang berharga. Akhirnya kuputuskan untuk Blogwalking
sembari belajar merangkai kata untuk memperkaya diksi yang beragam dari pengalaman
peserta lain.
Pada malam ini
pada KBMN belajar mengenai Diksi dan Seni Bahasa bersama Narasumber Maydearly,
sebagai nama pena. Beliau memiliki segudang prestasi dan menghasilkan beberapa
karya buku antalogi dan buku solo. Diantaranya 10 buku Antologi, 2 Buku Kurator
"Jejak Pena Pengembara Aksara", dan "Kisah Para Pendaki
Mimpi" . Selain itu juga telah membuat buku mayor Buku Duo "Literasi
Digital untuk Abad 21" bersama Prof.Eko Indrajit, Buku Solo "Trik
Jitu Menjadi Penulis Millenial", buku solo "Episode 1 Januari 2020
dalam Kenangan",dan buku solo "Catatan Inspiratif".
Pengertian Diksi
Diksi berasal
dari bahasa Latin: dictionem, yang diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi
diction berupa kata kerja yang berarti: pilihan kata. Yaitu menuliskan sesuatu
secara ekspresif, sehingga tulisan tersebut memiliki ruh dan karakter kuat, dan
mampu menggetarkan atau mempermainkan pembacanya.
Sejarah Diksi
Dalam sejarah bahasa, Ilmuwan
Yunani Filosof Aristoteles yang telah memperkenalkan diksi sebagai sarana
menulis indah dan berbobot. Gagasannya telah ia sebut sebagai diksi puitis yang
ia tulis dalam Poetics (puisi). Kemudian gagasan tersebut berkembang fungsinya,
sehingga diksi tidak hanya diperlukan bagi penyair menulis puisi, tetapi juga
bagi para sastrawan yang menulis prosa dengan berbagai genre-nya.
William
Shakespeare dikenal sebagai sastrawan yang sangat piawai dalam menyajikan diksi
melalui naskah drama. Ia dikenal sebagai mahaguru dalam menuliskan romantisme yang
dipadu dengan tragedi. Diksi Shakespeare relevan untuk menulis karya yang
bersifat realita maupun metafora. Gaya penyajiannya sangat komunikatif, dan tak
lekang tergilas zaman.
Mengapa Diksi Penting?
Diksi sangat penting karena mengandung keindahan
dalam kata yang tak tereja oleh bibir. Tanpa diksi bagaikan sayur tanpa garam,
membuat karya kita menjadi menarik menggetarkan setiap insan yang membaca.
Diksi memancarkan kemilau di antara bintang-bintang yang bertaburan di langit,
tanpa kilaunya tak akan menjadi indah
Bagaimankah cara mengembangkan
diksi agar menarik?
Sebagian besar
penulis pemula merasa tidak berani dalam bermain diksi pada tulisannya. Memiliki
kekhawatiran tak dapat berfikir menangkap kata yang tepat, lidah terasa kelu
merangkai kalimat, membuat penulis tak mampu hasilkan karyanya hingga akhir.
Pikiran negatif bagi penulis harus
dihindari, dan melawan diri sendiri untuk berani menggoreskan pena. Mulailah menulis
dari hal sederhana apa yang kita lihat, rasakan, dan dengar. Tips menurut
narasumber untuk mendapatkan diksi yang indah adalah dengan melibatkan 5 panca
indera kita.
Berikut adalah
5 jurus pamungkas dalam mengembangkan Diksi yang indah :
1.
Sense of Touch (sentuhan)
Menulis dengan melibatkan indera
peraba dapat digunakan untuk memperinci dengan apik tekstur permukaan benda,
atau apapun. Penggunaan indra peraba ini sangat cocok untuk menggambarkan
detail suatu permukaan, gesekan, tentang apa yg kita rasakan pada kulit.
Contoh:
Pada pori-pori angin yang dingin, aku pernah
mengeja rindu yang datang tanpa permisi
2.
Sense of Smell (penciuman)
Menulis dengan melibatkan indra
penciuman hal ini akan membuat tulisan kita lebih beraroma. Tehnik ini akan
lebih dahsyat jika dipadukan dengan indra penglihatan.
Contoh:
Di
kepalaku wajahmu masih menjadi prasasti, dan aroma badanmu selalu ku gantungkan
dilangit harapan
3. Sense of Taste (rasa)
Menulis dengan melibatkan indra perasa. Merasakan setiap energi yang
ada di sekitar kita. Penggunaan indra perasa sangat ampuh untuk menggambarkan
rasa suatu makanan, atau sesuatu yg tercecap di lidah.
Contoh:
Ku kecup
rasa pekat secangkir kopi di tangan kananku, sembari ku genggam Hp tangan kiriku. Telah terkubur dengan bijaksana,
dirimu beserta centang biru, diriku bersama centang satu.
4. Sense of Sight (penglihatan)
Menulis dengan melibatkan indra penglihatan memiliki Prinsip “show,
don’t tell". Selalu ingat, dalam menulis, cobalah menunjukkan kepada
pembaca (dan tidak sekadar menceritakan semata). Buatlah pembaca seolah-olah
bisa “melihat” apa yang tengah kita ceritakan. Buat mereka seolah bisa menonton
dan membayangkannya. Prinsip utama dan
manjur dalam hal ini adalah DETAIL. Tulislah apa warnanya, bagaimana bentuknya,
ukurannya, umurnya, kondisinya.
Contoh:
Derit
daun pintu mencekik udara ditengah keheningan, membuatku tersadar jika kamu
hanya sebagai lamunan
5. Sense of Hearing (pendengaran)
Menulis dengan melibatkan energi yang kita dengar. Begitu banyak suara
di sekitar kita. Belajarlah untuk menangkapnya. Bagaimana? Dengarlah, lalu
tuliskan. Mungkin, inilah sebab mengapa banyak penulis sukses yang kadang
menanti hening untuk menulis. Bisa jadi mereka ingin menyimak suara-suara.
Sebuah tulisan yang ditulis dengan indra pendengaran akan terasa lebih
berbunyi, lebih bersuara. Selain itu, penulis juga bisa berkreasi dengan
membuat hal-hal yang biasanya tak terdengar menjadi terdengar.
Contoh:
Derum
kejahatan yang mendekat terasa begitu kencang. Udara hening, tetapi terasa
berat oleh jerit keputusasaan yang dikumandangkan bebatuan, sebuah keputusan
yang menghakimiku untuk tak lagi merinduimu
Malam dingin
merasuk ke tulang
Membuat ku semakin Lelah tak terbayang
Dari pagi
hingga petang
Tapi dengan
mengajar ku merasa senang
Pahit manis roda kehidupan
Kucoba
ikhlaskan tanpa sesal
Semoga Tuhan memmberiku
jalan
Mengarungi
hidup tanpa tertekan
Ku bingung dan
selalu bimbang
Mengapa seakan
takdir menyerang
Terluka nanar
penuh derita
Rasa sakit
yang tak terperi
Kau lontarkan
kata menyayat tajam
Merobek hati yang
tak berdosa
Semoga Tuhan
beriku keadilan
Membuatnya sadar
akan perasaan
Quotes yang sangat apik sebagai
motivasi diri untuk terus menulis dan menulis sebagai cara untuk menghilangkan
rasa sakit hati, Semoga dengan menulis menyembuhkan segala penyakit hati dan
fisik. Semoga sukses…Salam Literasi…Jangan lupa tinggalkan jejak untuk saran
dan kritik pada chat komentar


