Pertemuan : Ke -10
Tema : Kiat Menulis Cerita Fiksi
Narasumber : Sudomo, S.Pt
Moderator : Bambang Purwanto, S.Kom.Gr
“Sehebat Apapun bakat dan Talenta Seorang Penulis, tetap tidak akan dapat mengalahkan ketekunan, disiplin dan konsistensi” A Wan Bong
Seperti biasa
malam di akhir minggu yang tak ada bedanya, ditemani suara bising dari berbagai
iklan televisi dan acara yang tak menarik perhatian di biarkan tak ada
penontonnya. Anak ku di depan TV tapi jarinya sibuk memainkan layar HP dengan
matanya menatap tajam tak berkedip seolah tak mau di usik. Kubiarkan dia
bermain, malem minggu saya bebaskan, setelah selesai setoran hafalan 5 surah
yang lumayan panjang. Ayah tengah sibuk
otak-atik barang yang rusak untuk diperbaiki, dengan keahliannya menyulap suatu
barang menjadi lebih berguna dan bagus. Kini beliau tengah asyik memperbaiki
helmku, yang jika di pakai kaca depan selalu turun menghalangi pandanganku ke
depan. Sesekali jika naik motor, ku dorong helmku ke atas, seperti layaknya
pembalap profesional. Begitulah beliau, diam-diam tetapi perhatian.
Sedangkan
diriku masih terpaku di depan laptop, seakan kepala berat untuk menangkap ide
menjadi kalimat yang menarik. Kedipan kursor yang terus memanggilku, tak mampu
menggerakkan jemariku yang masih enggan menari di atas keyboard. Terdengar,
langkah kaki yang berderup semakin keras mendekatiku. “Bun, baru apa?“ tanya
anak ku yang seolah tak tahu jika bundanya bingung nulis. Entah apa yang
membuatnya sejenak menanyaiku, “Ini lho dek, bunda baru belajar nulis”, kataku
sambil berfikir tak begitu mengindahkannya. “Masak, bunda udah besar gak bisa
nulis”, ucapnya penuh penasaran. “Bisa dong dek, maksudnya nulis merangkai kata
yang menarik dek sesuai tema” kataku dengan sikat agar tidak bertanya lagi.
“Oh,…gitu ya bun, bunda harus banyak belajar dulu kalau mau bisa”, ucapnya
dengan penuh semangat. “iya, ya dek makasih ya sayang”, kataku dengan rasa
bahagia. Kutarik badannya ku cium keningnya. Lantas dia pun kembali menggoyang
jemarinya yang mungil menjelajahi game favoritnya.
“Betul juga
kata anakku, aku harus mencari ilmunya dulu sebelum nulis, minimal dengan
membaca aku akan dapat ide”, gumamku dengan semangat menderu. Kudapati Hp,
ternyata malam ini KBMN pertemuan ke 10 dengan tema Kiat Menulis Cerita Fiksi. Ku simak baik-baik
setiap kata yang disampaikan oleh narasumber Mas Mo dengan pembawaan santai
tetapi mendalam. Kelas dimulai dengan pengenalan profil beliau melalui
kompasiana dengan judul yang menarik “Jangan Mengenalku nanti Kecewa”. Beliau
menceritakan latar belakang keluarga dan sederet prestasi dalam dunia tulis
menulis yang disajikan dengan bahasa yang unik dan menarik, berikut profil
lengkap beliau : https://s.id/ProfilSudomoSPt
Strategi
pembelajaran yang Mas Mo sampaikan dengan menggunakan alur MERDEKA, yaitu Mulai
dari Diri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual,
Elaborasi Pemahaman, dan Aksi Nyata.
1.
Mulai dari Diri. Pada alur ini, Mas mo mengajak untuk
berbagi pengalaman dalam menulis cerita
fiksi. Peserta diminta untuk mengirimkan cerita singkat mengenai pengalamannya.
Cerita dapat berupa pengalaman mengalami kendala saat memulai menulis cerita
fiksi, tantangan yang dihadapi, pengalaman menerbitkan buku fiksi dan lain
sebagainya. Strategi pertama Mas Mo telah berhasil memikat para peserta untuk
bercerita dengan deretan pesan WA yang masuk untuk bercerita.
2.
Eksplorasi Konsep. Pada alur ini peserta diminta untuk mempelajari secara mandiri
materi yang telah disiapkan dalam bentuk cerita pendek. Peserta membaca dan
membuat catatan/pertanyaan terkait materi yang ingin digali lebih dalam lagi.
Berikut di tautannya https://s.id/MateriSudomo
Informasi penting yang dapat kita
petik dari cerpen tersebut adalah motivasi menulis cerita fiksi, fiksi,
bentuk-bentuk cerita fiksi, syarat menulis cerita fiksi, unsur-unsur pembangun
cerita fiksi, serta tips menulia cerita fiksi. Semua terkemas dalam sebuah
cerita fiksi yang menarik dengan penggunaan diksi serta kalimat yang seolah
pembaca merasakannya.
Terdapat
beberapa istilah dalam cerita fiksi, antara lain :
a.
Fiksimini, yaitu fiksi singkat yang hanya
terdiri dari beberapa kata. Sebagai contoh fiksimini yang terkenal For sale:
baby shoes, never worn. Secuil kalimat itu memiliki maknanya luas dan dalam
jika ditelisik lebih jauh
b.
Flash fiction, yaitu cerita kilat dengan kekhususan
jumlah kata. Biasanya mengandung plot twist.
c.
Premis merupakan ringkasan cerita dalam satu
kalimat. Premis mengandung unsur, yaitu tokoh, tantangan, tujuan tokoh, dan
resolusi. Sebagai contoh seorang anak yang berjuang melawan penyihir jahat demi
kedamaian dunia. Itu adalah premis dari novel Harry Potter. Kekuatan premis
adalah mampu menggambarkan novel yang tebal hanya dengan satu kalimat saja.
3.
Ruang Kolaborasi. Pada alur ini Mazmo mengajarkan
cara menulis fiksi dengan memberikan beberapa kalimat, untuk lanjutkan sendiri
menjadi satu paragraf di dalam resume. Berikut
kalimatnya:
“Perlahan suara-suara itu menghilang. Dalam gulita aku
menggigil sendirian. Mendadak bulu kudukku meremang. Terdengar suara di
kejauhan. Semakin lama kian mendekat….”
Jantungku berdetak kian cepat, jemari tanganku seperti
es saling mengikat kuat. Tak terasa bunyi kletuk-kletuk pada kedua gigiku yang
tak lagi bisa diam menahan dinginnya malam. “Ngaik…, Hah suara apa itu seperti
pintu yang terbuka, gumamku sambil kututup badanku dengan selimut tebal. “
Bagaimana kalau motorku hilang, ada anggota keluargaku melayang. Pikiranku
kalut terbang membawa kecemasan. Aku tak bisa tinggal diam, dengan ketakutan yang
tepatri, kubulatkan tekad keluar kamar melihat apa yang terjadi. Kutapaki Langkah
demi langkah, ku ambil sapu di sudut ruang. Ku turuni tangga, perlahan tapi
pasti, dengan tubuh seolah ingin kembali tapi hati ini semakin meronta untuk melihat
kondisi. Kulihat tiap sudut rumah, ku
pandangi barang-barang, ku dekati pintu utama masih terkunci. “Byur…., siapa
di dalam…Ku teriakakan suaraku penuh penasaran. Aku bun, baru BAB ternyata
suara Ayah sedang di toilet. Aduh,lega…akhirnya aku kembali ke kamar dan meneruskan
mimpi indahku yang tertunda.
4.
Demonstrasi Kontekstual. Pada alur ini peserta diminta
untuk menuliskan 5 tema yang paling disukai dan dikuasai. Em…kucoba tulis yang
bisa ku rasakan, percintaan, perjuangan hidup, teman hidup, pengorbanan dan pertemanan.
5.
Elaborasi Pemahaman. Pada alur ini dilakukan
sesi tanya jawab untuk memperdalam materi.
Diantaranya :
a.
Cara mengasah daya imajinasi penulis fiksi yaitu
dengan terus konsisten menulis yang akan membuat seorang penulis terbiasa
nyaman menulis dalam kondisi apa pun.
b.
Tips menulis cerita fiksi, antara lain
menumbuhkan niat, menentukan ide dan genre yang disukai dan kuasai, membaca
karya fiksi orang lain, membuat kerangka, dan mulailah menulis kemudian menyelesaikannya.
c.
Berikut cara membuat outline agar tulisan tetap
berada pada jalurnya
- Kerangka disusun berdasarkan unsur-unsur pembangun
cerita fiksi
- Menentukan tema agar pembaca mengerti lingkup cerita
fiksi kita
- Membuat premis sesuai tema
- Menentukan uraian alur/plot berdasarkan
unsur-unsurnya
- Menentukan penokohan kuat
berdasarkan jenis dan teknik penggambaran watak tokoh dengan baik
- Menentukan latar/setting dengan menunjukkan sisi
eksotis dan detail
- Memilih sudut pandang penceritaan yang unik
d.
Cara membangun alur/plot cerita fiksi
·
Menentukan dulu jenis alur/plot yang ingin
digunakan;
·
Memahami unsur-unsur alur/plot yang meliputi pengenalan
cerita, awal konflik, menuju konflik, konflik memuncak/klimaks, penyelesaian/ending.
Contoh alur plot sederhana :

e.
Cara membuat cerita fiksi yang berangkat dari
kisah nyata
Ø
Sebagai kuncinya menambahkan bumbu berupa
konflik, hambatan/tantangan yang dihadapi tokoh, ending yang menyentuh, dll;
Ø
Memberikan penjelasan selangkah demi selangkah
terkait detail karakter, sifat, watak dengan metode show don't tell.
Kemudian menggambarkan tokoh melalui gaya bahasa, lingkungan tokoh, perilaku
Ø
Kunci menjaga netralitas penulis POV 1 adalah
jangan baper. Tempatkan diri sebagai penulis, bukan tokoh.
f.
Cara membuat dialog yang menarik
Kuncinya adalah membuat dialog yang 'hidup'. Ciri-ciri
dialog yang hidup yaitu tidak kaku, sesuai setting tempat cerita, dan terdapat
aktivitas tokoh menyertai dialog.
6.
Koneksi Antarmateri. Pada alur belajar ini, Peserta
diminta untuk menuliskan kesimpulan dari materi belajar malam ini.
Kesimpulan saya adalah untuk bisa menulis dengan genre
apapun adalah konsisten menulis dan banyak membaca.
7.
Aksi Nyata. Alur belajar ini, yaitu terkait
dengan penerapan materi malam ini dalam bentuk tulisan, yaitu resume hasil
belajar.
Kelas menulis sudah berakhir, beliau
memberikan link youtube untuk mengenal lebih jauh perihal dunia tulis menulis cerita
fiksi https://youtu.be/dXX9RWxT_u8 seirama
mata yang tinggal beberapa watt saja. Tak terasa mata terpejam sambil duduk di
depan laptop, “jeduk, kepalaku terbentur keras di meja, kuusap -usap kepala
yang masih teras nyeri. Ku lirik jam sudah pukul 24,00 “Ah…besuk saja aku
lanjutkan tulisan ku ini”, gumamku yang sudah tidak kuat menahan kantuk. Kututup
laptop, cepat-cepat kuselimuti badanku yang sudah menggeliat sejak tadi meminta
haknya untuk berbaring. Semoga sukses…Salam literasi..
Pergi sekolah tak lupa membawa roti
Hari ini kelas telah di nanti sejak pagi
Ayo kawanku teruslah menulis fiksi
Sebagai healing pribadi penyejuk hati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar