Sabtu, 11 Februari 2023

Cara Mudah Berpantun Penuh Petuah

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Menulis merangsang pemikiran, jadi jika kamu tidak bisa memikirkan sesuatu untuk ditulis, tetaplah mencoba untuk menulis." (Barbara)

 

                Malam berselimutkan mega tak nampak kan wajahnya yang kelam sembunyikan bah luapan hujan. Semilir angin membawa embun yang bertebaran tanpa arah dan tujuan. Membasahi setiap insan melengkapi dinginnya hujan menusuk tulang. Begitu pula dengan kata-kata yang tak kunjung tampakkan gelora niatnya menorehkan goresan makna dalam rentetan tulisan. Kurangkai kata demi kata dengan peluh yang berkucur, menegang syaraf pusat tapi apa daya, tak hasilkan kalimat yang bersesuaian dengan sarat makna yang mendalam.  Ku berharap buku segera tersusun dengan beragam ratusan jenis pantun yang bermanfaat.

Duduk bersanding di pelaminan

Berhias bunga begitu indah

Mari peserta KBMN 28

Belajar Pantun tak kenal Lelah

 

                Malam KBMN yang sudah dinanti bertemakan Kaidah Pantun dengan narasumber Bapak Miftahul Hadi dengan segala prestasi yang beliau ukir. Menambah semangat para peserta KBMN dengan beragam sajian pantun yang keren. Berikut adalah buah karya yang berhasil beliau torehkan dengan passionnya sebagai penulis pantun.


 

 

               

               

 

 

 

 

 

Pantun Sebagai Tradisi Asli Indonesia

                Beragam kesenian verbal yang dimiliki Indonesia salah satunya adalah seni pantun. Terlihat pada beberapa pertunjukan pantun bersifat narasi, sebagai contohnya adalah Kentrung di Jawa Tengah dan Jawa Timur menggunakan struktur "pantun" untuk menceritakan kisah-kisah sejarah keagamaan atau sejarah lokal dengan iringan genderang.

Sebagian besar kesusastraan tradisional Indonesia merupakan suatu pertunjukan genre campuran kompleks, seperti "randai" dari Minangkabau wilayah Sumatra Barat. Seni tersebut menjelma sebagai campuran beragam seni seperti seni musik, seni tarian, seni drama, dan seni bela diri dalam perpaduan seremonial yang menakjubkan.

Pantun diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda pada sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO di Paris, Prancis (17/12/2020).



Setiap daerah memiliki ciri khas pantun masing-masing, di Tapanuli, pantun dikenal dengan istilah ende-ende (Suseno, 2006), sebagai contoh :

 

Molo mandurung ho dipabu,

Tampul si mardulang-dulang,

Molo malungun ho diahu,

Tatap siru mondang bulan.

 



Di Sunda, pantun dikenal dengan istilah paparikan (Suseno, 2006), sebagai contoh :

 

Sing getol nginum jajamu,

Ambeh jadi kuat urat,

Sing getol maengan ilmu,

Gunana Dunya akhirat.

 

 

Pengertian Pantun

                Renward Branstetter (Suseno, 2006; Setyadiharja, 2018; Setyadiharja, 2020) mengungkapkan bahwa pantun berasal dari kata "Pan" yang merujuk pada sifat sopan. Dan kata "Tun" yang merujuk pada sifat santun. Kata "Tun" dapat diartikan juga sebagai pepatah dan peribahasa (Hussain, 2019)

                Sedangkan menurut Hussain, 2019 pantun berasal dari kata Tuntun (Pampanga): teratur, Tonton (Tagalog): mengucapkan sesuatu dengan susunan yang teratur, Tuntun (Jawa Kuno): benang, Atuntun: teratur, Matuntun: pemimpin, Panton (Bisaya): mendidik, Pantun (Toba); kesopanan atau kehormatan.

Lain halnya menurut Mu’jizah, 2019 Pantun berasal dari akar kata "TUN" yang bermakna "baris" atau "deret" Asal kata Pantun dalam masyarakat Melayu-Minangkabau diartikan sebagai "Panutun", oleh masyarakat Riau disebut dengan "Tunjuk Ajar" yang berkaitan dengan etika.

Pantun sebagai puisi lama yang mengandung empat baris, dua baris pertama disebut dengan pembayang atau sampiran, dan dua baris kedua disebut dengan maksud atau isi (Yunos, 1966; Bakar 2020).

Jadi pantun sebagai salah satu seni melayu atau Betawi yang memiliki aturan tertentu  untuk memperindah kalimat agar makana yang tersirat melekat bagi pendengarnya.

Ciri-Ciri Pantun

a.       Satu bait terdiri atas empat baris

b.       Satu baris terdiri atas empat sampai lima kata

c.       Satu baris terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata Bersajak a-b-a-b

d.       Baris pertama dan kedua disebut sampiran atau pembayang

e.       Baris ketiga dan keempat disebut isi atau maksud

Manfaat Pantun

a.       Komunikasi sehari-hari

b.       Sambutan dalam pidato

c.       Menyatakan perasaan

d.       Lirik lagu

e.       Perkenalan

f.        Berceramah/dakwah

Pantun Berperan sebagai Pemelihara Bahasa

a.       Sebagai alat pemelihara bahasa, dalam menjaga fungsi kata dan menjaga alur berfikir.

b.       Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat dalam penyampaian pesan

c.       Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar.

d.       Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain kata.

 

Perbedaan Pantun dengan Karya Sastra Lain


 


 Contoh Syair :

Inilah kisah bermula kawan

Tentang negeri elok rupawan

Menjadi rebutan haparan jajahan

Hidup mati pahlawan memperjuangkan

Engkau telah mafhum kawan

Penggenggam bambu runcing ditangan

Pemeluk tetes darah penghabisan

Syahdan, Tuhan karuniai kemerdekaan.

Contoh Gurindam :

Jika rajin salat sedekah,

Allah akan tambahkan berkah.

Sedangkan Karmina, terdiri atas dua baris. Baris pertama dan kedua tidak ada hubungannya.

Contoh Karmina

Sudah gaharu Cendana pula,

Sudah tahu bertanya pula.

 

Tips Menulis Pantun

a.       Memahami kaidah/ciri pantun

b.       Menguasai perbendaharaan kata

c.       Menulis isi pantun pada baris ke 3 dan 4 terlebih dahulu

d.       Melanjutkan menulis sampiran pada baris 1 dan 2 sebagai pengantar

e.       Dalam menulis pantun, dihindari penggunaan nama orang, dan nama merk dagang.

 

Berikut Contoh Pantun Berdasarkan Jenis Persajakan dan Rima dari Narasumber

1.       Rima Akhir

Pohon nangka dililit benalu,

Benalu runtuhkan batu bata,

Mari kita waspada selalu,

Virus corona di sekitar kita

2.       Rima tengah dan akhir.

Susun sejajar bungalah bakung,

Terbang menepi si burung elang,

Merdeka belajar marilah dukung,

Wujud mimpi Indonesia cemerlang

3.       Rima awal, tengah dan akhir

Jangan dipetik si daun sirih,

Jika tidak dengan gagangnya,

Jangan diusik orang berkasih,

Jika tidak dengan sayangnya.

4.       Rima lengkap

Bagai patah tak tumbuh lagi,

Rebah sudah selasih di taman,

Bagai sudah tak suluh lagi,

Patah sudah kasih idaman.

 

Menguasai Perbendaharaan Kata

                Menulis pantun sangat penting dalam hal menguasai perbendaharaan kata terutama perlu diperhatikan pada dua huruf terakhir yang memiliki persamaan bunyi. Berikut narasumber memberikan contoh kata yang memiliki rima yang sama.



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tantangan Berpantun



Tema :

 

 

 

Kurikulum baru Sebagai ajakan

Merubah Guru cara mengajar

Tergerak bergerak dan menggerakkan

Saatnya siswa merdeka belajar

Harumnya mekar bunga melati

Membakar semangat selalu menyala

Didik para siswa dengan Hati

Sebagai Profil Pelajar Pancasila

Materi malam ini sungguh menarik bertemakan Kaidah Pantun dengan segala aturan, macam dan cara mudah membuatnya. Tentu hanaylah sebuah teori yang tak akan berarti tanpa eksekusi. Semoga memberikan warna tersendiri dalam dunia literasi. Semoga sukses … Salam literasi.

 

Kita harus berani

Memulai saat sempat

Materi pantun malam ini

Semoga bermanfaat

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pasti Buku Terbit hanya di Indie

  Judul                 : Pasti Buku Terbit hanya di Indie Resume            : ke-23 Gelombang      : 28 Hari/ Tanggal    : Rabu, 1 ...