“Menulis merangsang
pemikiran, jadi jika kamu tidak bisa memikirkan sesuatu untuk ditulis, tetaplah
mencoba untuk menulis." (Barbara)
Malam
berselimutkan mega tak nampak kan wajahnya yang kelam sembunyikan bah luapan
hujan. Semilir angin membawa embun yang bertebaran tanpa arah dan tujuan. Membasahi
setiap insan melengkapi dinginnya hujan menusuk tulang. Begitu pula dengan kata-kata
yang tak kunjung tampakkan gelora niatnya menorehkan goresan makna dalam
rentetan tulisan. Kurangkai kata demi kata dengan peluh yang berkucur, menegang
syaraf pusat tapi apa daya, tak hasilkan kalimat yang bersesuaian dengan sarat
makna yang mendalam. Ku berharap buku
segera tersusun dengan beragam ratusan jenis pantun yang bermanfaat.
Duduk bersanding di pelaminan
Berhias bunga begitu indah
Mari peserta KBMN 28
Belajar Pantun tak kenal Lelah
Malam
KBMN yang sudah dinanti bertemakan Kaidah Pantun dengan narasumber Bapak Miftahul
Hadi dengan segala prestasi yang beliau ukir. Menambah semangat para peserta
KBMN dengan beragam sajian pantun yang keren. Berikut adalah buah karya yang
berhasil beliau torehkan dengan passionnya sebagai penulis pantun.
Pantun Sebagai Tradisi Asli
Indonesia
Beragam kesenian verbal yang dimiliki Indonesia
salah satunya adalah seni pantun. Terlihat pada beberapa pertunjukan pantun
bersifat narasi, sebagai contohnya adalah Kentrung di Jawa Tengah dan Jawa
Timur menggunakan struktur "pantun" untuk menceritakan kisah-kisah
sejarah keagamaan atau sejarah lokal dengan iringan genderang.
Sebagian besar
kesusastraan tradisional Indonesia merupakan suatu pertunjukan genre campuran kompleks,
seperti "randai" dari Minangkabau wilayah Sumatra Barat. Seni tersebut
menjelma sebagai campuran beragam seni seperti seni musik, seni tarian, seni
drama, dan seni bela diri dalam perpaduan seremonial yang menakjubkan.
Pantun diakui
oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda pada sesi ke-15 Intergovernmental
Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kantor
Pusat UNESCO di Paris, Prancis (17/12/2020).
Setiap daerah memiliki ciri khas pantun masing-masing, di Tapanuli, pantun dikenal dengan istilah ende-ende (Suseno, 2006), sebagai contoh :
Molo mandurung ho dipabu,
Tampul si mardulang-dulang,
Molo malungun ho diahu,
Tatap siru mondang bulan.
Di Sunda, pantun dikenal dengan istilah paparikan (Suseno, 2006), sebagai contoh :
Sing getol nginum jajamu,
Ambeh jadi kuat urat,
Sing getol maengan ilmu,
Gunana Dunya akhirat.
Pengertian Pantun
Renward Branstetter (Suseno, 2006; Setyadiharja,
2018; Setyadiharja, 2020) mengungkapkan bahwa pantun berasal dari kata
"Pan" yang merujuk pada sifat sopan. Dan kata "Tun" yang
merujuk pada sifat santun. Kata "Tun" dapat diartikan juga sebagai
pepatah dan peribahasa (Hussain, 2019)
Sedangkan
menurut Hussain, 2019 pantun berasal dari kata Tuntun (Pampanga): teratur,
Tonton (Tagalog): mengucapkan sesuatu dengan susunan yang teratur, Tuntun (Jawa
Kuno): benang, Atuntun: teratur, Matuntun: pemimpin, Panton (Bisaya): mendidik,
Pantun (Toba); kesopanan atau kehormatan.
Lain halnya menurut
Mu’jizah, 2019 Pantun berasal dari akar kata "TUN" yang bermakna
"baris" atau "deret" Asal kata Pantun dalam masyarakat
Melayu-Minangkabau diartikan sebagai "Panutun", oleh masyarakat Riau
disebut dengan "Tunjuk Ajar" yang berkaitan dengan etika.
Pantun sebagai
puisi lama yang mengandung empat baris, dua baris pertama disebut dengan
pembayang atau sampiran, dan dua baris kedua disebut dengan maksud atau isi
(Yunos, 1966; Bakar 2020).
Jadi pantun sebagai
salah satu seni melayu atau Betawi yang memiliki aturan tertentu untuk memperindah kalimat agar makana yang
tersirat melekat bagi pendengarnya.
Ciri-Ciri Pantun
a.
Satu bait terdiri atas empat baris
b.
Satu baris terdiri atas empat sampai lima kata
c.
Satu baris terdiri atas delapan sampai dua belas
suku kata Bersajak a-b-a-b
d.
Baris pertama dan kedua disebut sampiran atau
pembayang
e.
Baris ketiga dan keempat disebut isi atau maksud
Manfaat Pantun
a.
Komunikasi sehari-hari
b.
Sambutan dalam pidato
c.
Menyatakan perasaan
d.
Lirik lagu
e.
Perkenalan
f.
Berceramah/dakwah
Pantun Berperan sebagai
Pemelihara Bahasa
a.
Sebagai alat pemelihara bahasa, dalam menjaga
fungsi kata dan menjaga alur berfikir.
b.
Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan
yang kuat dalam penyampaian pesan
c.
Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna
kata sebelum berujar.
d.
Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam
berfikir dan bermain kata.
Perbedaan Pantun dengan Karya Sastra Lain
Inilah kisah bermula kawan
Tentang negeri elok rupawan
Menjadi rebutan haparan jajahan
Hidup mati pahlawan memperjuangkan
Engkau telah mafhum kawan
Penggenggam bambu runcing
ditangan
Pemeluk tetes darah penghabisan
Syahdan, Tuhan karuniai
kemerdekaan.
Contoh Gurindam :
Jika rajin salat sedekah,
Allah akan tambahkan berkah.
Sedangkan Karmina, terdiri atas dua baris. Baris pertama dan
kedua tidak ada hubungannya.
Contoh Karmina
Sudah gaharu Cendana pula,
Sudah tahu bertanya pula.
Tips Menulis Pantun
a.
Memahami kaidah/ciri pantun
b.
Menguasai perbendaharaan kata
c.
Menulis isi pantun pada baris ke 3 dan 4
terlebih dahulu
d.
Melanjutkan menulis sampiran pada baris 1 dan 2
sebagai pengantar
e.
Dalam menulis pantun, dihindari penggunaan nama
orang, dan nama merk dagang.
Berikut
Contoh Pantun Berdasarkan Jenis Persajakan dan Rima dari Narasumber
1.
Rima Akhir
Pohon nangka dililit benalu,
Benalu runtuhkan batu bata,
Mari kita waspada selalu,
Virus corona di sekitar kita
2.
Rima tengah dan akhir.
Susun sejajar bungalah bakung,
Terbang menepi si burung elang,
Merdeka belajar marilah dukung,
Wujud mimpi Indonesia cemerlang
3.
Rima awal, tengah dan akhir
Jangan dipetik
si daun sirih,
Jika tidak
dengan gagangnya,
Jangan diusik orang berkasih,
Jika tidak
dengan sayangnya.
4.
Rima lengkap
Bagai patah
tak tumbuh lagi,
Rebah sudah
selasih di taman,
Bagai sudah
tak suluh lagi,
Patah sudah
kasih idaman.
Menguasai
Perbendaharaan Kata
Menulis
pantun sangat penting dalam hal menguasai perbendaharaan kata terutama perlu
diperhatikan pada dua huruf terakhir yang memiliki persamaan bunyi. Berikut
narasumber memberikan contoh kata yang memiliki rima yang sama.
Tantangan Berpantun
Tema :
Kurikulum baru Sebagai ajakan
Merubah Guru cara mengajar
Tergerak bergerak dan menggerakkan
Saatnya siswa merdeka belajar
Harumnya mekar bunga melati
Membakar semangat selalu
menyala
Didik para siswa dengan Hati
Sebagai Profil Pelajar
Pancasila
Materi malam ini sungguh menarik bertemakan Kaidah Pantun
dengan segala aturan, macam dan cara mudah membuatnya. Tentu hanaylah sebuah
teori yang tak akan berarti tanpa eksekusi. Semoga memberikan warna tersendiri
dalam dunia literasi. Semoga sukses … Salam literasi.
Kita harus berani
Memulai saat sempat
Materi pantun malam ini
Semoga bermanfaat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar